Dalam menjalankan usaha, ketemu orang baru atau client baru dengan ‘topik’ kerjaan awal yang kita rasakan kita bisa memenuhi, tentu suatu peluang yang baik dan menyenangkan.
Perlu mencermati beberapa hal ini untuk ketemu orang baru:
- Secara bahasa, komunikasi kita bisa ngerti tidak? namun kalau sama-sama orang Indonesia mungkin tidak terlalu sulit
- Apakah kita bisa memenuhi harapannya? memenuhi ini tidak hanya dalam ukuran barang atau jasa yang bisa kita penuhi, namun juga target waktu dan ukuran kwalitas. Sayangnya hal ini tidak kami lakukan ukuran-ukuran outputnya, sehingga partner bisa dengan mudah mengatakan ‘Anda tidak mengerjakan apa-apa, mengapa kami harus bayar?’
- Apakah partner baru ini mampu untuk membayar sesuai waktu, nilai dan semudah apa ia mengeluarkan dana untuk membayar ke kita. Partner memang membayar dengan tepat waktu, namun saat membayar sambil mengeluarkan kata-kata kurang baik. Emm saya terasa seperti duduk diam (padahal saya tidak minta-minta), partner menjatuhkan uang ke saya sambil berkata “haram bagi saya jika tidak membayar tepat waktu“
- Perlu ditulis pada surat perjanjian, “uang yang sudah disetor tidak dapat dikembalikan”
Ketemu orang baru sebenarnya tidaklah tiba-tiba, jika dirunut, mungkin kenal dari teman lain, saudaranya teman, ketemu pada acara yang sama-sama diminati dan sebagainya.
Saya terbiasa relatif percaya ke orang lain, meskipun baru, dan saya biasa membuat mudah bagi orang lain. Jaman sekarang asal sudah pegang nomor handphone atau email sudah cukup. Mudah yang saya maksud, biasanya saya tidak alot untuk tawar-menawar mengenai jasa dan harga yang saya tawarkan.
Dalam cerita ini, saya ketemu dengan saudara teman saya. Teman saya ini pernah kerja di bagian yang sama dengan saya sekira 1 tahun. Saya merasa cukup kenal dengan teman saya, demikian pula teman saya cukup kenal dengan saya sehingga iapun mereferensi saya ke saudaranya untuk mengerjakan pekerjaan itu oleh saya.
Setelah diskusi kurang lebih 3 jam dengan partner baru di kawasan Mega Kuningan, kamipun sepakat untuk bertransaksi jasa yang saya miliki. Lalu dibuatkan dokumen sederhana tentang hasil perjanjian itu.
Waktu berjalan dan saya kerjakan bagian saya, dan sayapun dibayar sesuai waktu yang telah disepakati. Memasuki bulan ke-dua, hasil kerja saya mulai terasa melambat, tidak seperti pada bulan pertama seperti membuat bangunan langsung nampak hasilnya. Namun di bulan kedua ini mulai memasuki bagian mengisi bangunan dan menghias hal-hal kecil, karena kerangka dasarnya telah relatif selesai dibangun.
Pada saat seperti inilah, kemajuan tidak terlalu nampak dari sisi partner. Sayangnya pekerjaan ini tenaga kerjanya kerja atau tidak tidaklah nampak. Lha kalau kerjaan mikir lalu mengimplementasikan software yang tidak kasat mata, bahkan istri saya yang tiap hari lihat sayapun tidak tahu, apa yang dikerjakan.
Partner mulai tidak sabar, meski saya berusaha tetap jaga komunikasi, namun mungkin apa yang saya komunikasikan mulai kurang terasa sesuatu yang maju. Tapi memang saatnya sekarang sudah bukan lagi fase pembangunan dasar, tapi fase mengisi bangunan. Di sini mulai ada salah persepsi, dimana menurut saya isi akan diisikan oleh tim dari partner, namun tim dari partner melemparkan isinya ke saya untuk dimasukkan. Sedangkan saya sebelumnya telah memberikan pengetahuan bagaimana cara mengisinya.
Di saat akhir, partner saya bertanya ke saya untuk melakukan modifikasi terhadap isinya. Tanpa pikir negatif, saya ajarkan semua yang ditanyakan, saya juga menambahkan fasilitas yang kurang ketika ada yang diperlukan. Namun rupanya ketika saya memberikan pengetahuan ini menjadi suatu kesalahan saya. Karena ketika partner melakukan hal ini, berarti saya dianggap tidak ngapa-ngapain yang seharusnya itu tugas saya.
Baiklah, apabila orang lain menganggap saya salah, pertama yang saya lakukan adalah minta maaf. Saya tidak secara langsung mengungkapkan alasan saya, karena ujung-ujungnya adalah mencari pembenaran masing-masing. Saya percaya setiap orang bagi dirinya akan menganggap dirinya benar, karena setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda-beda.
Diakhir cerita, partner saya ini meminta dikembalikan uang yang telah dibayarkan ke saya. Hemmm, baru kali ini uang yang sudah disetor dapat dikembalikan lagi. Itulah salah satu yang dibuat mudah saja, meskipun saya harus tahan nafas dulu untuk mengembalikannya. Saya lebih menghargai nama baik daripada nilai uang yang harus saya kembalikan.
Rada heran juga ketika partner minta mengembalikan uang, karena saya merasa santai saja sementara partner menggunakan kata-kata yang menurut ukuran saya kurang baik. Oh, silakan, mudah-mudahan saya tidak memberikan suasana kotor ke dunia ini.



